oleh

Babinsa Koramil 08/Siantar   Komsos  ke Kantor Pangulu Nagori Silampuyang  Bahas Pernikahan Dini

-Militer-41 views

Simalungun  | Koramil 08/Siantar Kodim 0207/Simalungun Serma M. Ompusunggu melaksanakan kegiatan komsos bersama Ibu Mia Silalahi dan  masyarakat lainnya di Nagori Silampuyang Kec. Siantar Kota P.Siantar, Senin (27/1/2020).

Di Indonesia, pernikahan dini terjadi dengan alasan untuk menghindari fitnah atau berhubungan seks di luar nikah. Ada juga orang tua yang menikahkan anak mereka yang masih remaja karena alasan ekonomi. Dengan menikahkan anak perempuan, berarti beban orang tua dalam menghidupi anak tersebut berkurang, karena anak perempuan akan menjadi tanggung jawab suaminya setelah menikah.

Anak yang dinikahkan diharapkan memiliki penghidupan yang lebih baik. Namun jika anak tersebut putus sekolah atau berpendidikan rendah, justru akan memperpanjang rantai kemiskinan. Praktik pernikahan dini juga terlihat lebih banyak terjadi pada golongan masyarakat menengah ke bawah.Ujar Babinsa Serma M Opusungguh.

Lebih lanjut Serma M. Ompusunggu mengatakan UU Perkawinan sebenarnya tidak mengenal adanya perkawinan anak atau pernikahan dewasa. UU Perkawinan hanya memberi batasan minimal usia ideal bagi warga negara untuk menikah, yaitu setelah berumur 21 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Hanya saja, UU Perkawinan membolehkan laki-laki berumur di bawah 19 tahun dan perempuan di bawah 16 tahun untuk menikah, selagi mendapat dispensasi dari pengadilan, dalam hal ini Pengadilan Agama.

Pernikahan dini sejatinya sudah banyak terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Pusat Statistik pada tahun 2017 menyebut 25,71 persen perempuan berusia 20-24 tahun menikah saat umurnya kurang dari 18 tahun. Artinya, 1 dari 4 perempuan Indonesia menikah di usia anak. Ujar babinsa.